Mengenal Beras Analog BPPT, Sehat dan Berbahan Lokal

1
(1)

 2,039 total views,  3 views today

Bogor, RISET-Pro.

Guna mendukung ketahanan pangan Indonesia, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah melakukan berbagai kegiatan guna mendukung program diversifikasi pangan melalui inovasi teknologi formulasi dan desain alat untuk pengolahan pangan berbahan baku lokal, seperti jagung, singkong dan sagu.

Pusat Teknologi Agroindustri BPPT memanfaatkan bahan-bahan lokal yang ada di Indonesia, seperti jagung, singkong dan sagu, untuk diolah menjadi bahan pangan menyerupai beras atau disebut beras analog. Hal dilakukan sebagai upaya untuk mendukung program diversifikasi atau penganekaragaman pangan melalui pemanfaatan potensi sumberdaya lokal. Saat ini BPPT fokus pada komoditas jagung, singkong dan sagu.

Beras analog dari jagung, singkong dan sagu yang dikembangkan BPPT memiliki Indeks Glikemik rendah dan sangat cocok untuk program “diet” terutama untuk penderita diabetes serta masyarakat yang “concern” terhadap pola hidup sehat.

Beras Analog sebagai Pengganti Beras-beras Impor

BPPT mengembangkan beras tiruan atau beras analog, yang dibuat dari bahan baku lokal. Beras ini berasal dari jagung, ubi kayu, dan atau sagu sehingga dijamin aman bahkan mempunyai manfaat kesehatan seperti indeks glikemik rendah.

Teknik proses produksinya atau peralatan produksinya telah dikembangkan oleh BPPT. Diseminasi teknologi juga telah dilakukan melalui pelaku usaha (UKM) di beberapa daerah.

Diversifikasi pangan untuk mewujudkan ketahanan pangan yang dilakukan BPPT melalui Kedeputian TAB dalam hal ketahanan pangan nasional selama ini memang menyoroti upaya penyediaan pangan pokok (beras) dari tahun ke tahun.

Ketersediaan lahan untuk produksi beras (padi) semakin tidak mampu memenuhi jumlah kebutuhan, dikarenakan lahan pertanian semakin kurang karena alih fungsi, tadinya berfungsi untuk tanaman pangan, telah beralih fungsi menjadi pemukiman dan industri.

Sementara itu, tingkat konsumsi beras Indonesia sangat tinggi, lebih dari 100 kg per kapita per tahun jauh lebih tinggi dari rata-rata konsumsi beras dunia yang hanya 60 kg per kapita per tahun. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat akan manfaat konsumsi pangan beragam perlu ditumbuhkan.

Hal ini dapat meningkatkan konsumsi dan juga produksi pangan berbahan lokal sehingga dapat mengurangi tingkat konsumsi beras dan juga pangan impor (gandum).

Program BPPT dalam rangka ketahanan pangan adalah peningkatan produksi pangan sumber protein hewani yaitu melalui pengembangan ikan nila unggul yang dapat dibudidayakan di perairan payau (tambak).

Ini dilakukan guna memanfaatkan tambak-tambak idle dan diharapkan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Pengembangan ikan nila ini juga diperluas dengan jenis ikan nila yang dapat dibudidayakan di laut (marine Tilapia) yang diharapkan akan dapat membantu mengatasi semakin menurunnya ketersediaan ikan laut seperti kakap.

Selain itu, dalam rangka mendukung peningkatan produksi daging juga dikembangkan peternakan sapi yang terintegrasi dengan perkebunan dan industri kelapa sawit.

Kendala dalam diversifikasi pangan saat ini adalah produksi pangan olahan berbahan lokal masih terkendala harganya yang belum bisa murah seperti beras raskin karena skala produksinya masih kecil.
Untuk itu dukungan pemegang kebijakan akan pengembangan pangan berbahan lokal, seperti memberikan kesempatan pangan berbahan lokal menggantikan raskin untuk daerah-daerah dengan potensi bahan pangan lokal. Atau pemberian subsidi bagi usaha pengembangan pangan berbahan lokal.

Selain itu, masyarakat juga harus mulai belajar mengurangi konsumsi beras dan mengalihkannya dengan mengonsumsi pangan nonberas yang bahan bakunya diproduksi di dalam negeri (bukan impor).

Indonesia sendiri sebenarnya kaya akan sagu dengan luas lahan sekitar 1,25 juta hektare (ha) dengan potensi produksi lebih dari 12 juta ton. Banyak juga pangan olahan yang dapat dihasilkan dari sagu, seperti mi dan camilan-camilan.

Beras Analog Cocok untuk Diet dan Penderita Diabetes

Pada umumnya produk olahan yang terbuat dari bahan pangan lokal memiliki keunggulan pada rendahnya nilai indeks glikemik (IG). Sehingga, beras analog, mi, dan makaroni ini cocok untuk dikonsumsi oleh penderita diabetes dan masyarakat luas yang ingin menjaga pola hidup sehat.

Dari penelitian yang telah dilakukan, beras analog berbahan jagung dan mocaf produksi BPPT memiliki IG sebesar 26,4. Angka IG beras analog ini jauh lebih rendah dari IG beras putih varietas IR 64 yang mencapai angka 69,96. Sementara makaroni dan mi sagu memiliki IG hanya 28 dengan kadar pati resisten yang tinggi yaitu tiga sampai empay kali lebih tinggi dibandingkan mi terigu instan. Kelebihan lainnya, kata dia, dengan IG yang rendah, produk pangan ini memiliki karbohidrat kompleks sehingga tahan kenyang.

Beras analog BPPT lebih sehat dibandingkan dengan beras padi yang biasa dikonsumsi masyarakat. Beras analog memiliki Indeks Glikemik rendah, yaitu 26,4 Indeks Glikemik di bawah 55 masuk dalam kategori rendah). Sedangkan Indeks Glikemik dari beras padi mencapai 70. (Indeks Glikemik <55 masuk kategori rendah dan >70 masuk kategori tinggi).

(editor/risetpro/15/13092017)

dari berbagai sumber :
https://www.bppt.go.id/teknologi-agroindustri-dan-bioteknologi/2238-beras-analog-bppt-sehat-dan-berbahan-lokal

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 1 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.