25% SDM Iptek dan Perekayasa BPPT adalah Penerima Beasiswa RISET-Pro

5
(1)

 1,115 total views,  1 views today

Pengembangan sumber daya manusia (SDM) Iptek dan perekayasa menjadi salah satu faktor utama dalam mendukung pembangunan nasional. Mempersiapkan SDM Iptek dan perekayasa nasional yang unggul menjadi program prioritas di Pusat Pembinaan Pendidikan dan Pelatihan (Pusbindiklat), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk menjadi Research Power House Institution.

RISET-Pro berkesempatan mewawancarai tenaga ahli BPPT yang juga Kepala Pusbindiklat BPPT periode 2014-2019, Prof. Dr. Ir. Suhendar I. Sachoemar, M.Si. Asep, panggilan akrab beliau dalam kesehariannya, menilai bahwa kegiatan beasiswa RISET-Pro yang telah dilakukan sejak 2013-2020 ini merupakan kontribusi nyata pemerintah dalam mempersiapkan SDM Iptek dan perekayasa yang profesional dan kompeten di era global. Program beasiswa bergelar dan non-gelar RISET-Pro diharapkan mampu mendukung BPPT dalam mengakselerasi tugas pemerintahan di bidang pengkajian dan penerapan  (“Jirap”) teknologi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku (UU No. 11/2019 SISNAS IPTEK).

Sejak tahun 2013 sampai 2020, sebanyak 96 orang telah mengikuti program beasiswa bergelar dan 655 orang mengikuti program beasiswa non-gelar dari BPPT. Para alumni beasiswa ini banyak menorehkan prestasi dan dukungannya bagi program unggulan BPPT. Contohnya adalah: (1) teknologi kebencanaan (Indonesia Tsunami Early Warning System, Ina-TEWS) sejak tahun 2015, (2) teknologi Auto-Pilot Pesawat Udara Nir Awak (Flight Control System) pada tahun 2016, (3) teknologi PLTP Binary Cycle untuk pembangkit listrik yang efisien dan ramah lingkungan, (4) identifikasi dan karakterisasi bahan baku obat, (5) teknologi dan manajemen penyimpanan energi, khususnya untuk kendaraan listrik, (6) pengembangan teknologi implan tulang dan gigi, (7) pembangkit listrik tenaga sampah, dan (8) pengkajian-pengkajian terkait sistem pemerintahan berbasis elektronik (SPBE).

Asep menilai implementasi beasiswa RISET-Pro dari Kemenristek/BRIN telah banyak berperan dalam mendukung peningkatan kualifikasi dan kompetensi SDM BPPT. Hingga saat ini telah ada sebanyak 54 orang Magister dan 27 orang Doktor dari program beasiswa ini. Disamping itu, beasiswa RISET-Pro Program Non-Gelar telah membantu peningkatan kompetensi teknis SDM BPPT dalam penguasaan teknologi yang banyak bermanfaat dalam pengembangan program-program flagship BPPT.

Sebagai contoh kontribusi alumni RISET-Pro Program Non-Gelar adalah pesawat PUNA MALE. Pesawat ini dikembangkan oleh salah satu alumni RISET-Pro agar mampu terbang selama 24 jam dan mencapai ketinggian hingga 30.000 kaki. PUNA MALE tidak hanya membawa kamera tetapi juga radar.

Selain itu, flagship BPPT lainnya besutan alumni RISET-Pro adalah inovasi teknologi implant tulang titanium dan implan gigi. Implan tulang hasil rekayasa BPPT ini berbahan baku lokal serta telah berhasil diproduksi massal oleh industri lokal. Pengembangan teknologi produksi implan tulang stainless steel 316L (SS316L) menggunakan teknologi investment casting, yang mampu menghasilkan implan tulang dalam jumlah banyak dengan waktu lebih cepat.

Kontribusi alumni RISET-Pro di BPPT juga dapat kita lihat dari perannya melalui Task Force Riset dan Inovasi Teknologi COVID-19. Para alumni Bersama dengan para stakeholders BPPT lainnya ikut melakukan percepatan pengembangan produk dalam negeri untuk mengatasi wabah COVID-19 yang menjadi pandemik di Indonesia. Mulai dari pengembangan rapid test kit, ventilator, mobile hand washer, hand sanitizer, hingga meluncurkan Aplikasi Mobile COVID Track dan Mobile Laboratory BSL-2.

Program beasiswa RISET-Pro sangat dirasakan manfaatnya oleh insan di BPPT. Sekitar 25% dari total jumlah SDM Iptek dan Perekayasa di BPPT telah merasakan manfaat beasiswa ini.  Asep berharap beasiswa ini dapat dilanjutkan dan diperbanyak di tahun-tahun berikutnya. Khusus bagi BPPT, Program Beasiswa Non-Gelar dapat diperbesar cakupannya dan jumlah penerimanya karena program ini diharapkan mampu membekali kompetensi teknis, kerangka berpikir, dan memahami praktik yang terjadi di industri seperti apa. “Berdasarkan data kualifikasi SDM BPPT saat ini dan mengingat target roadmap peningkatan kualifikasi SDM BPPT, maka dukungan Kemenristek/BRIN melalui pemberian Tugas Belajar maupun Program Pendidikan Berbasis Riset, masih sangat dibutuhkan oleh BPPT” imbuh Asep.

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *