Alumni Beasiswa RISET-Pro Program Bergelar Didominasi LIPI

5
(1)

 772 total views,  1 views today

Di periode akhir kegiatan RISET-Pro tahun 2020 ini, Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr. Laksana Tri Handoko, M.Sc., turut menyampaikan testimoninya. Dalam sesi wawancara dengan tim RISET-Pro, Handoko (panggilan akrab beliau, red.) menyampaikan apresiasinya terhadap penyelenggaraan beasiswa RISET-Pro yang sudah berlangsung sejak tahun 2013 hingga 2020.

Handoko memulai karir sebagai peneliti di Pusat Penelitian Fisika tahun 1987 dan menjadi Kepala Grup Fisika Teori dan Komputasi di Pusat Penelitian Fisika tahun 2002-2012. Selanjutnya tahun 2012-2014, menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian Informatika LIPI.

LIPI sebagai salah satu lembaga penelitian pertama, terbesar dan terbaik di Indonesia, memiliki posisi strategis dalam mendukung pembangunan nasional dan meningkatkan daya saing bangsa. Oleh karena itu, menurut Handoko, penelitian/riset yang dikembangkan di LIPI harus ditunjang oleh tiga modal yang kuat, yaitu sumber daya manusia (SDM), infrastruktur penelitian, dan anggaran. SDM (kualifikasi dan kuantitas) inilah yang memegang peranan kunci (sekitar 80%) pengembangan institusi LIPI.

Sejak tahun 2013 hingga saat ini, sudah ada 162 peneliti LIPI telah mengikuti program beasiswa bergelar dan 201 peneliti untuk program non-gelar. Para peneliti LIPI yang mengikuti program beasiswa bergelar ini tersebar di berbagai negara, mayoritas di Jepang, Jerman, dan Australia. Keuntungan mengikuti beasiswa RISET-Pro adalah para alumni beasiswa dari LIPI dapat langsung tune in (tidak perlu proses adaptasi terlalu lama) ketika kembali ke satuan kerjanya, bahkan mampu mengembangkan kelompok riset baru. Selain itu, baik sebelum dan sesudah lulus program gelar Master dan Doktoral di luar negeri, para alumni telah memiliki skema-skema kerjasama dengan kampus tempat asal mereka menimba ilmu. Sebagai contoh, para alumni beasiswa RISET-Pro berkontribusi dalam pengembangan Indonesian-German Center for Nano and Quantum Technologies (IG-Nano) untuk penelitian dan pengembangan nanosensor. IG-Nano ini juga berkolaborasi dengan Laboratory for Emerging Nanometrology (LENA) di Braunschweig, Jerman.

Tingkat kesuksesan para alumni beasiswa bergelar cukup signifikan. Salah satunya ditunjukkan dalam hal peningkatan angka publikasi jurnal internasional yang signifikan untuk LIPI. Secara umum alumni RISET-Pro relatif masih di level early career researcher, karena masih baru memulai karir penelitian di sekitar tahun 2016-an. Tetapi Handoko menilai para alumni beasiswa RISET-Pro ini cukup aktif dalam mencari sumber-sumber pendanaan riset dari luar negeri, beberapa di antaranya sudah menjadi Principal Investigator (PI) yang mengelola hibah riset secara mandiri.

Saat ini LIPI terus mengembangkan infrastrukur penelitian, termasuk pengadaan alat-alat penelitian yang mutakhir. Peneliti LIPI diposisikan sebagai end-user fasilitas tersebut. Saat ini dapat dikatakan tidak ada hambatan dalam ketersediaan alat penelitian di LIPI. Hal ini turut mendukung aktivitas dan semangat penelitian para alumni beasiswa RISET-Pro ketika mereka kembali ke LIPI.

Para peneliti LIPI memang secara nature nya melakukan penelitian dan pengembangan (“Litbang”) – berbeda dengan BPPT yang memang fokusnya pada bidang pengkajian dan penerapan (“Jirap”). Sehingga jumlah karyasiswa penerima beasiswa RISET-Pro asal LIPI banyak yang mengambil program bergelar, karena memang sangat diperlukan dalam menunjang basis keilmuan mereka sebagai peneliti. Sebaliknya, banyak karyasiswa asal BPPT yang mengambil program beasiswa non-gelar karena dirasa sangat efektif dalam mendukung aktivitas Jirap mereka.

Handoko mengapresiasi program beasiswa RISET-Pro dan berharap program serupa dapat dilanjutkan di tahun-tahun berikutnya. Handoko juga mengusulkan adanya kelanjutan program beasiswa ini dalam bentuk postdoctoral yang berlokasi di dalam negeri. Handoko mendasari hal ini karena sudah cukup banyak peneliti bergelar Doktor, tetapi tidak ada lembaga riset yang dapat menampung mereka. Dimana banyak diantara mereka memiliki passion di bidang penelitian dan akademik. Tujuannya adalah menciptakan ekosistem dan wadah untuk berkarya sebagai infrastruktur riset di dalam negeri. Lebih lanjut, Handoko menilai sumber dana program postdoctoral ini dapat berasal dari APBN, lalu dengan program postdoctoral ini para karyasiswa dapat mengupayakan hibah riset dari luar negeri sebagai sumber devisa.

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *