Dampak Negatif Kendaraan Listrik Terhadap Lingkungan

4.9
(14)

 15,038 total views,  21 views today

Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sektor transportasi memiliki andil dalam peningkatan pemanasan global yang menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Indonesia menargetkan pengurangan emisi yang signifikan dari sektor transportasi dengan mengganti Bahan Bakar Minyak (BBM) berbasis fosil ke Bahan Bakar Nabati (BBN) dan listrik.

Nugroho Adi Sasongko, Perekayasa Madya di Pusat Pengkajian Industri Proses dan Energi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengungkapkan sisi lain program transportasi hijau untuk kendaraan listrik. Muncul tantangan baru dalam percepatan implementasi kebijakan kendaraan listrik, mengingat lebih dari 60% pembangkit listrik di Indonesia adalah berbasis batubara dengan faktor emisi Jaringan Listrik Nasional di atas 780 gram CO2eq/kWh. Sementara itu penggunaan kendaraan listrik akan mendongkrak konsumsi listrik.

Faktor emisi dari Jaringan Listrik Nasional tahun 2017 di sejumlah negara-negara Asia (Sumber: Sasongko NA, et al. 2017)

Berdasarkan Proyeksi Business as Usual (BAU) tanpa adanya intervensi yang tegas dari pemerintah, batubara di tahun 2021 mendominasi bauran sumber energi primer listrik termasuk 30 tahun mendatang di tahun 2050. “Tentunya hal ini bertolak belakang dengan kebijakan pemerintah melalui Target Netralitas Karbon atau Net Zero Emission Target (NZE) di tahun 2050,” jelas Penerima Beasiswa Gelar RISET-Pro ini.

Di tahun 2016-2017, peraih gelar Doktor dari Universitas Tsukuba Jepang ini telah meneliti terkait perbandingan Kebijakan transportasi hijau di Jepang dan Indonesia bekerjasama dengan Institute of Energy Economic Japan (IEEJ) sebuah lembaga think tank energi nomor satu di Asia. “Hasilnya tentu saja bisa ditebak, mempertegas bahwa Jepang memiliki strategi pengurangan emisi yang jauh lebih baik dibandingkan dengan Indonesia. Faktor emisi yang rendah dari sektor ketenagalistrikan memberikan keuntungan lebih bagi Jepang untuk mempromosikan kendaraan listrik,” urainya.

Intensitas daur hidup karbon yang berasal dari pembangkit listrik (Sumber: IPCC 2014 a b)

Emisi karbondioksida dari proses pembakaran di dalam Pembangkit Listrik Tenaga Uap berbasis batubara melepaskan asap berbahaya termasuk diantaranya sulfur, NOx serta partikel dan debu. Material-material ini dapat menyebabkan dampak turunan seperti hujan asam, penyakit pernapasan, bahkan perubahan genetik makhluk hidup jika melampaui ambang batas tertentu.

Nugroho yang juga Ketua Ikatan Alumni RISET-Pro (IASPro) ini  menerangkan, dampak mobil lstrik terhdap peningkatan konsumsi listrik juga pada komponen kendaraan listrik salah satu tantangan terbesarnya terletak pada pengisian dan pelepasan energi di baterai. Baterai isi ulang ini terdiri dari sejumlah sel elektrokimia seperti katode, anoda serta elektrolit. Bahan baku baterai tersedia melimpah di Indonesia, terutama nikel.

Dampak lingkungan dari Utilisasi Sistem Kendaraan Listrik setelah normalisasi (Sumber: BPPT Outlook Energi Indonesia, 2021)

Berdasarkan catatan Kementerian Energi Sumberdaya Mineral (ESDM) di tahun 2019 dan USGS tahun 2020, Indonesia memiliki 72 juta ton bijih nikel atau sekitar 52% dari total cadangan nikel dunia yang mencapai sekitar 139 juta ton.

Pemerintah melalui konsorsium BUMN Pertambangan Mind ID, Antam, PLN dan Pertamina membuat anak perusahaan baru yaitu Indonesia Battery Corporation (IBC). Perusahaan yang baru didirikan awal Maret ini bertujuan untuk memastikan nilai tambah ekonomi terbesar diperoleh bangsa di sepanjang rantai pasok, mulai dari pertambangan nikel (sebagai salah satu bahan baku utama baterai), pabrik peleburan (smelter), industri manufaktur baterai sampai dengan sebuah sistem kendaraan listrik. Eksploitasi sumberdaya nikel nasional secara masif dilakukan untuk memenuhi pasar lokal dan global.

Nugroho memaparkan setidaknya ada empat dampak negatif dari industrialisasi kendaraan listrik yaitu bahan berbahaya dan beracun (B3), konsumsi energi massif sepanjang proses produksi, jejak air (water footprint) yang luar biasa besar, serta kerusakan ekosistem. Ternyata, selain emisi GRK, ada sejumlah bahaya lain yang dampaknya juga relatif sangat besar terhadap manusia dan lingkungan. ”Kendaraan listrik sebagaimana produk manufaktur lainnya, memerlukan berbagai bahan baku di sepanjang rantai pasoknya, dimana jika tidak dikelola dengan baik, proses pengolahan material-material ini menghadirkan potensinya dalam merusak lingkungan dan kesehatan manusia,” papar Nugroho.

Penelitian-penelitian terbaru yang dilakukan Nugroho di tahun 2021 menunjukkan konsekuensi eksploitasi masif lithium dan nikel dunia meningkatkan rasio paparan material B3 baik itu terhadap vegetasi, hewan maupun manusia.  Penelitian beban lingkungan dilakukan dengan Metode Penilaian Dampak Daur Hidup (Life Cycle Impact Assessment atau LCIA).

Grafik penggunaan sumber tenaga pembangkit listrik

Material B3 tersebut dapat terakumulasi dan mengendap pada perairan (freshwater, marine), tanah (soil atau terrestrial), udara dan manusia. Sejumlah substansi seperti logam berat, arsenik, sodium dichromate dan hydrogen fluoride yang umumnya dihasilkan dari aktivitas pertambangan, pembangkit listrik berbasis bahan bakar fosil dan barang elektronik seperti baterai memiliki dampak yang sangat spesifik di dalam ekosistem.

Faktor karakterisasi bahan beracun dalam LCIA diekspresikan dengan menggunakan unit kilogram dari 1,4-dichlorobenzene equivalent (1,4-DB, p-DCB atau para-dichlorobenzene). Senyawa ini adalah senyawa organik dengan formula C6H4Cl2 yang kurang larut di dalam air dan tidak mudah diuraikan oleh organisme. Selain itu, jika masuk dalam rantai makanan, senyawa ini akan terakumulasi di dalam jaringan lemak hewan dan manusia. Environmental Protection Agency (EPA), The United States Department of Health and Human Services (DHHS) serta The International Agency for Research on Cancer (IARC) menetapkan bahwa p-DCB merupakan senyawa pemicu kanker (karsinogenik) dan mutasi genetik.

Di sepanjang proses pembuatan baterai dan kendaraan listrik melalui tahapan ekstraksi, pemurnian, manufaktur yang mengkonsumsi energi dan air bersih yang luar biasa besar. Eksploitasi material-material ini dari alam juga menyebabkan kerusakan ekosistem, serta terlepasnya substansi dan limbah tailing berbahaya ke lingkungan. Di sisi lain, masih banyak yang belum diketahui dampak jangka panjang daur ulang limbah baterai.

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 4.9 / 5. Vote count: 14

No votes so far! Be the first to rate this post.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *