Tumbuhan Endemik Bali Ini Terancam Punah

5
(4)

 874 total views,  5 views today

Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Hayati (OR IPH) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tahun 2022 akan memberikan dana untuk 22 proposal riset konservasi tumbuhan terancam punah yang ada di Indonesia. Salah satunya penelitian tanaman endemik Bali yaitu Pinanga arinasae J.R. Witono.

Saat ini sekitar 132.171,47 hektar atau 23 persen dari luas keseluruhan daratan di Bali adalah kawasan hutan. Kondisi ini tentunya akan membawa dampak terhadap keberlangsungan keanekaragaman hayati termasuk P. arinasae.

Tanaman yang dikenal oleh warga lokal dengan sebutan Nyabah atau Jabah ini adalah satu-satunya jenis palem endemik Bali. ”Nyabah perlu dijaga kelestariannya agar tidak hilang dari habitatnya,” jelas Ketua Tim Periset, Sutomo.

Pinanga arinasae-J.R. Witono di Hutan Bedugul Bali (Sumber: Dokumentasi Sutomo)

Menurut penerima Beasiswa Gelar RISET-Pro ini, keragaman genetik P. arinasae cukup rendah. Hal ini diperkirakan karena populasi alaminya yang sangat terbatas. “Dengan demikian dapat dipastikan tumbuhan ini kedepannya akan terancam punah,” tutur Sutomo.

Di satu sisi degradasi habitat alaminya mulai meningkat seiring dengan meningkatnya aktivitas manusia atau anthropogenik, terutama di kawasan wisata Bedugul. ”Di sisi lainnya upaya perbanyakan jenis target ini di Kebun Raya Bali belum berhasil dengan baik, yang kemungkinan disebabkan oleh minimnya informasi ekologi jenis-jenis tersebut di habitatnya,” ucap peraih gelar doktor di Edith Cowan University, Australia Ini.

Menurut Sutomo, agar tidak terjadi over-eksploitasi pada tumbuhan endemik yang terancam punah diperlukan survei populasi di habitat alaminya. Selain itu diperlukan modeling prediksi sebarannya di masa kini dan masa depan (berkaitan dengan perubahan iklim global).

”Semuanya ini akan bermanfaat sebagai sumber informasi dan bahan pertimbangan para pengambil kebijakan sebagai saran dan rekomendasi untuk kegiatan konservasinya baik di dalam habitat aslinya maupun di luar habitatnya,”tutur Sutomo.

Salah satu upayanya yaitu studi populasi dan autekologi jenis tumbuhan langka, terancam maupun endemik yang memadukan studi lapangan (on-ground vegetation survey) dan studi penginderaan jauh serta predictive modelling. ”Dalam re-introduksi, untuk memaksimalkan tingkat keberhasilannya, tingginya kesesuaian karakter lokasi re-introduksi dengan habitat asli sangatlah penting,” terang Sutomo.

Sasaran daripada penelitian ini adalah untuk memperbarui data mengenai populasi atau kelimpahan individu jenis Pinanga arinasae di Pulau Bali. Lalu diketahuinya data autekologi jenis Pinanga arinasae di habitat alaminya, dan terdapatnya peta model sebaran jenis (Species Distribution Model).

Lokasi eksplorasi direncanakan akan dilakukan di sejumlah areal yang juga dikenal sebagai Pulau Dewata ini. Tempat penelitian antara lain dataran tinggi Bedugul (Bukit Tapak, Pohen dan Pengelengan) Kabupaten Tabanan, Kawasan Gunung Merbuk di Kabupaten Jembrana dan Hutan Adat Pilan di Kabupaten Gianyar.

Penelitian untuk mengatasi ancaman kepunahan Nyabah ini merupakan salah satu dari 173 riset yang akan dilakukan pada tahun 2022 oleh para peneliti di OR IPH. Total anggaran BRIN untuk mendukung seluruh penelitian itu sekitar Rp.1.7 miliar.

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *