Menggigit Dengan Implan Gigi Buatan Dalam Negeri

5
(5)

 2,099 total views,  1 views today

Tidak perlu takut sulit mengunyah makanan yang disukai jika gigi patah, lepas akibat kecelakaan atau faktor lainnya. Tahun 2022, tim peneliti dari Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Teknik (OR IPT) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) akan melanjutkan pengembangan implan gigi buatan dalam negeri.

Data Kementerian Kesehatan Indonesia menunjukkan bahwa mayoritas alat kesehatan (alkes) yang beredar di Indonesia adalah produk impor. Secara prosentase dan jumlah, produk luar negeri jauh lebih banyak yaitu sekitar 88,1 persen atau 140.674 alkes, sementara buatan dalam negeri sebesar 11,9 persen atau 18.996 alkes.

Salah satu alat kesehatan yang masih didatangkan dari luar negeri yaitu implan gigi untuk menggantikan gigi tanggal. Implan gigi ini berbentuk seperti sekrup dan biasanya terbuat dari material titanium.

Produk implan gigi yang dikembangkan oleh tim peneliti dari OR IPT BRIN

Implan gigi ini ditanamkan secara permanen pada rahang sebagai pengganti akar gigi untuk mendukung mahkota gigi tiruan. Pada faktanya, meskipun tingkat keberhasilan pemasangan implan sudah cukup tinggi, namun kegagalan pemasangan implan gigi masih dapat terjadi akibat dari penolakan tulang pada benda asing.

Penolakan itu karena pembentukan lapisan biofilm (lapisan bakteri) pada permukaan implan. Adanya lapisan biofilm dapat menimbulkan terjadinya radang jaringan di sekitar implan gigi yang disebut periimplantitis. Infeksi tersebut dapat menyebabkan lepasnya implan yang telah dipasang.

Muhammad Kozin dan tim berupaya memodifikasi permukaan pada material implan gigi tersebut. “Modifikasi permukaan ini dilakukan untuk meningkatkan terjadinya oseointegrasi atau perlekatan antara implan gigi dengan tulang di sekitarnya sekaligus mencegah pembentukan lapisan biofilm lebih lama,” tutur Doktor penerima Beasiswa Gelar RISET-Pro angkatan pertama ini.

Mereka menumbuhkan titania nanotube (TNT) pada permukaan titanium melalui proses surface treatment pada permukaan implan agar mengurangi terjadinya penolakan benda asing. Surface treatment ini dilakukan untuk mengubah sifat karakteristik titanium pada bagian permukaan implan.

Kozin menerangkan metode yang cukup panjang dalam menumbuhkan TNT pada implan gigi yang akan dilakukan bersama tim risetnya. Langkah pertama yang dilakukan adalah menyiapkan spesimen dalam bentuk pelat titanium, kemudian dilakukan pre-treatment berupa etching (etsa atau proses dengan menggunakan asam kuat untuk mengikis bagian permukaan logam yang tak terlindungi) dan anodisasi. Setelah anodisasi selesai, spesimen kemudian dipanaskan hingga mencapai suhu tertentu, ditahan beberapa saat, dan akhirnya didinginkan perlahan-lahan agar menghasilkan kristal anatase (suatu polimorf atau bentuk mineral metastabil dari titanium dioksida).

Selanjutnya dilakukan pelapisan dengan nanopartikel perak (AgNP) dan hidroksiapatit (HA) dengan perbandingan molar tertentu yang dilarutkan dalam air. Metanol ditambahkan sebagai agen pereduksi pada deposisi dalam permukaan TNT menggunakan teknik elektrodeposisi dalam kotak iradiasi yang disinari lampu UV dan dilanjutkan dengan proses sintering untuk meningkatkan ikatan (bonding strength) dan menghasilkan kristal perak (Ag) dan HA pada permukaan.

Selanjutnya pengujian atau karakterisasi hasil riset dilakukan dengan memanfaatkan fasilitas alat pengujian yang dimiliki oleh BRIN antara lain FTIR, PSA, FESEM/EDX-mapping, XRD, TEM, mikroskop Keyence dan lainnya.

Sedangkan untuk mengetahui sifat osteoinduksi dilakukan analisis absorbansi warna untuk mengetahui konsentrasi HA atau mineralisasi yang terbentuk menggunakan UV-Vis Spektrofotometer. Selain itu, kemampuan antibakteri dapat diketahui dengan melakukan analisis persentase potensi hambat lapisan biofilm menggunakan bakteri gram positif atau bakteri gram negatif.

Implan gigi ini dipasang ke pasien oleh dokter gigi yang memiliki kompetensi dalam memasang implan. Berdasarkan data dari Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) dan Ikatan Peminat Kedokteran Gigi Implan Indonesia (IPKGII) diketahui jumlah dokter gigi saat ini lebih dari 30 ribu orang. Dari jumlah tersebut, yang memiliki kompetensi untuk memasang implan gigi adalah 2180 orang (data tahun 2019).

Sampai saat ini, implan gigi ini sepenuhnya masih diimpor. “Oleh karena itu, usaha pengembangan implan gigi di dalam negeri ini merupakan kegiatan yang strategis, karena akan mengurangi ketergantungan impor produk alat kesehatan khususnya produk implan gigi tersebut dan pada akhirnya akan meningkatkan kemandirian bangsa,” ucap peraih Doktor dari Universitas Kyushu, Jepang, ini.

Muhamad Kozin, OR IPT BRIN.

Pengembangan produk implan gigi telah bekerja sama dengan mitra riset yaitu PT Pudak Scientific dan PDGI saat ini telah memasuki tahapan persiapan uji klinik pada manusia. Uji klinik bekerja sama dengan Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto.

Kegiatan ini dilakukan dengan mengacu kepada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 63 Tahun 2017 tentang Cara Uji Klinik Alat Kesehatan yang Baik (CUKAKB). “Setelah melewati tahapan uji klinik tersebut, diharapkan implan gigi produksi dalam negeri ini bisa segera mendapatkan izin edar dari Kementerian Kesehatan sehingga bisa dipakai secara luas,” ucap Ketua Umum Ikatan Alumni RISET-Pro (IASPro) ini.

Dalam program Prioritas Riset Nasional (PRN) tahun 2020-2024 yang telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Nomor 38 Tahun 2019. Produk implan gigi ini juga menjadi salah satu produk unggulan dalam negeri.

Dalam melaksanakan program PRN terkait produk implan gigi tersebut, telah dilakukan penandatanganan kerja sama oleh beberapa pihak untuk mengembangkan implan gigi produksi dalam negeri melalui sebuah konsorsium PRN Implan Gigi. Anggota konsorsium tersebut berasal dari berbagai unsur seperti lembaga penelitian, universitas, industri dan asosiasi.

Tahun 2022, kegiatan riset terkait implan gigi ini dilakukan untuk menyempurnakan teknologi yang telah dihasilkan sebelumnya dengan metode sandblasting maupun sandblasting dan acid etching (SLA). Kegiatan ini dilakukan untuk mendapatkan parameter optimum sintesis TNT/AgHA dalam rangka meningkatkan sifat biokompatibilitas dari implan gigi tersebut. (Bambang R)

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 5

No votes so far! Be the first to rate this post.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *