Pencarian Bumi Lain Dari Puncak Timau

5
(3)

 439 total views,  4 views today

Sepekan jelang akhir tahun, teleskop luar angkasa James Webb diluncurkan untuk mencari tanda-tanda kehidupan di alam semesta dari antariksa. Pencarian juga akan dilakukan dengan memanfaatkan teleskop berdiameter 3,8 meter yang dibangun di Gunung Timau, Nusa Tenggara Timur.

Teleskop James Webb diluncurkan pada Hari Natal lalu dengan cara diangkut roket Ariane 5 dari bandara antariksa Eropa di Guyana Prancis, Amerika Selatan. Peluncuran teleskop berbiaya 10 Miliar US Dollar atau sekitar Rp. 141 triliun itu disiarkan langsung di channel YouTube NASA.

Teleskop James Webb (Sumber: NASA)

James Webb akan berada di luar angkasa selama dua minggu.  James Webb akan mencapai titiknya di orbit matahari berjarak satu juta mil dari Bumi, sekitar empat kali lebih jauh dari bulan. Teleskop seberat tujuh ton ini merupakan hasil kerja sama Badan Antariksa dan Aeronautika Nasional (NASA) Amerika Serikat dengan badan-badan antariksa Eropa dan Kanada.

Fungsi teleskop berbentuk seperti layang-layang ini akan mencari tahu lebih banyak tentang atmosfer planet yang berada di luar tata surya (eksoplanet), bahkan mungkin menemukan kehidupan di tempat lain di alam semesta.

Selain sistem planet lain, James Webb juga akan mempelajari objek di dalam Tata Surya kita sendiri. “Janji Webb akan menjelaskan apa yang tidak kita mengerti atau kita tidak bisa mengerti tentang alam semesta kita. Saya tidak sabar untuk melihat apa yang terungkap!” kata administrator NASA, Bill Nelson, dikutip dari laman resmi NASA.

Berdasarkan situs exploration  NASA (exoplanets.nasa.gov) sampai 26 Desember 2021 terdapat 4884 eksoplanet yang terkonfirmasi berada dalam  sistem tata surya. Usai ditemukannya pelanet lain di luar tata surya itu, penelitian berlanjut pada pencarian kehidupan lain atau planet mirip bumi yang layak huni.

Menurut Mantan Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) yang sudah tergabung dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin dalam Majalah Tempo edisi 21 Desember 2020 ada dua cara menemukan planet di luar angkasa.

Pertama, menggunakan teleskop dari bumi yang dimiliki observatorium besar. Kedua melalui teleskop dari wahana antariksa seperti teleskop Hubble pada tahun 1990,  dan 31 tahun kemudian misi Hubble dilanjutkan James Webb.

Para peneliti Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN akan melakukan pencarian kehidupan di luar bumi dari Observatorium Nasional (Obnas) Timau. Pencarian akan menggunakan teleskop terbesar di Asia Tenggara dengan diameter optic 3,8 meter.

Observatorium Nasional Timau masih dalam proses pembangunan

Observatorium Nasional Timau yang menempati area seluas 30 hektar akan menjadi rumah bagi sejumlah fasilitas pengamatan astronomi yang meliputi teleskop optik berdiameter 3,8 meter, teleskop survei berdiameter 50 sentimeter, serta teleskop Matahari berdiameter 30 sentimeter.

Teleskop optik 3,8 meter ini akan menjadi fasilitas terbesar yang akan beroperasi di observatorium tersebut. Rancangan teleskop ini mengadopsi rancangan teleskop 3,8 meter milik Kyoto University yang ada di Observatorium Okayama, Jepang. Teleskop ini akan memiliki arsitektur optik Ritchey-Chrétien yang terdiri atas cermin primer dan sekunder yang berbentuk hiperbola serta sebuah cermin tersier yang memantulkan cahaya ke bidang fokus Nasmyth. Desain ini akan meminimalisasi cacat bayangan yang terbentuk serta memudahkan penggunaan instrumen canggih berbobot besar

Rancangan teleskop teleskop optik berdiameter 3,8 meter terbilang unik karena menggunakan 18 segmen cermin sebagai penyusun cermin primer. Alih-alih menggunakan segmen berbentuk segi-enam seperti teleskop Keck di Hawaii, teleskop ini memiliki segmen dengan susunan seperti kelopak bunga (petal shape).

Design Teleskop Berdiameter 3,8 meter yang akan dipasang di Obnas Timau

Bentuk ini memberikan kemudahan dalam proses manufaktur dan pengujian. Setiap segmen cermin akan ditopang oleh sistem optika aktif yang menjaga supaya cermin primer berbentuk hiperbola. Sistem optika aktif akan mengompensasi ketidaksempurnaan permukaan cermin akibat gravitasi dan panas.

Teleskop optik 3,8 meter Observatorium Nasional Timau akan dilengkapi dengan dua instrumen generasi pertama, yakni kamera sensitif Pusat Sains Antariksa  dengan teknologi Charged Coupled Device (CCD) serta spektrograf resolusi menengah yang bisa dipergunakan untuk pengamatan galaktik dan ekstragalaktik.

Kamera yang direncanakan terdiri atas CCD ultra sensitif yang dilengkapi oleh filter pita lebar Bessel (UBVRI) dan Sloan (ugriz). Spektrograf dengan resolusi menengah (R < 30.000) dapat dioperasikan dengan mode slit serta mode Integral Field Unit (IFU) yang cocok digunakan untuk studi kinematika benda langit.

Sebagai Pelaksana tugas Kepala Balai Pengelola Observatorium Nasional Timau yaitu Abdul Rachman. Calon doktor astronomi dari Universitas Bern, Swiss, ini merupakan penerima Beasiswa Gelar RISET-Pro.

Abdul Rachman, Penerima Beasiswa Gelar RISET-Pro

Dengan fasilitas pengamatan kelas dunia ini, Abdul Rachman menyampaikan berbagai penelitian dapat dilakukan di Obnas Timau. Pemanfaatan teleskop itu nantinya dapat untuk studi benda kecil di tata surya, fotometri dan spektroskopi planet di tata surya dan eksoplanet.

Studi benda kecil dalam tata surya dalam hal ini asteroid sangat penting mengingat banyaknya objek-objek dekat Bumi yang berpotensi untuk berpapasan dekat dan jatuh ke Bumi. Pemantauan asteroid yang berkelanjutan penting terutama untuk wilayah khatulistiwa yang belum ada observatorium modern.

Lelaki kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, ini  mengatakan pencarian tanda-tanda kehidupan yang terdapat pada eksoplanet bisa dicari dari Obnas Timau ini. “Manusia sampai sekarang itu selalu tertarik untuk mencari dunia-dunia atau planet di luar angkasa ini  yang mungkin di sana ada kehidupan,” kata Abdul.

Pembangunan Obnas Timau ini bentuk realisasi dari Undang-undang No. 21 tahun 2013 tentang Keantariksaan mengamanatkan bangsa Indonesia untuk mandiri dalam sains dan teknologi keantariksaan, salah satunya adalah dalam bidang astronomi dan astrofisika. Perkembangan astronomi modern yang luar biasa cepat tidak dapat lepas dari perkembangan teknologi pengamatan menggunakan teleskop, kamera, serta instrumen yang semakin canggih. Ini juga berlaku bagi perkembangan astronomi di Indonesia. (Bambang R)

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *