Observatorium Nasional Timau Akan Beroperasi Tahun 2022

5
(2)

 61 total views,  4 views today

Observatorium Nasional Timau dalam proses pembangunan

Pembangunan Observatorium Nasional (Obnas) Timau Nusa Tenggara Timau ditargetkan akan rampung awal tahun 2022.  Obnas Timau akan memiliki teleskop terbesar di Asia Tenggara dengan diameter optik sepanjang 3,8 meter.

Plt. Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erna Sri Adiningsih, menjelaskan kemajuan pembangunan teleskop di Jepang mencapai 93,47 persen. “Teleskop siap dikirim dari Jepang ke Indonesia,” jelas Erna yang disiarkan di channel YouTube BRIN, pertengahan Desember lalu.

Sementara untuk kemajuan pembangunan gedung yang akan dipasang teleskop sudah mencapai 92,63 persen. Erna juga mengatakan alokasi anggaran untuk pengerjaan seluruh pembangunan tersebut di tahun 2021 sebesar Rp. 26,78 miliar.

Proses pemasangan kubah dan teleskop ke gedung teleskop menggunakan crane 30-50 ton. Setelah terpasang teleskop tersebut, tahap selanjutnya pembangunan instalasi, dan pengujian teleskop 3,8 meter.

Kemudian SDM Iptek yang ditugaskan untuk mengoperasikan Obnas Timau tidak langsung menggunakan teleskop untuk meneliti antariksa. Mereka akan diberikan bimbingan teknis pengoperasian teleskop terlebih dahulu oleh pembuat teleskop dari negeri sakura ini.

Dengan capaian yang telah dikerjakan di tahun 2021 ini, diharapkan Obnas Timau bisa dapat beroperasi mulai tahun depan. “2022 itu kami sudah bisa beroperasi, tetapi sebetulnya teleskop utama yang optiknya berukuran 3,8 meter itu  kami harapkan dapat selesai dan rampung di tahun 2022,” ujar Emanuel Sungging Mumpuni, Plt. Kepala Pusat Sains Antariksa.

Erna menambahkan usulan dalam bentuk proposal riset mengenai keantariksaan yang akan dikerjakan pada tahun depan itu sebanyak 165 proposal. Secara rinci 10 persen proposal mengajukan riset antariksa, terbanyak riset teknologi dan penginderaan jauh sebesar 25 persen.

Riset yang akan dikerjakan dengan menggunakan Obnas Timau di tahun 2022 diantaranya  pemantauan benda jatuh dari antariksa, astrofisika dengan teleskop 380 centimeter. “Ini untuk memperkuat capaian sebelumnya prediksi benda jatuh karena ini semakin banyak jumlah space objek yang dioperasikan di luar angkasa di berbagai negara,” ucap Erna.

Sebelum menggelar riset di Obnas Timau, selain mempersiapkan teleskop, dan fasilitas lainnya, keberadaan Obnas Timau juga perlu didukung oleh masyarakat di sekitarnya. Untuk itu Sungging yang juga penerima Beasiswa Non Gelar RISET-Pro tahun 2016, pertengahan November lalu mengajak Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Nusa Cendana (Undana) di Kupang untuk membuat kajian terhadap masyarakat di sekitar Obnas.

Emanuel Sungging Mumpuni, Plt. Kepala Pusat Sains Antariksa BRIN (memakai baju batik biru di tengah) bersama Tim Obnas Timau dan para Dosen FISIP Undana

Kerjasama itu untuk mencari cara agar keberadaan obnas dapat didukung oleh masyarakat sekitar dan tidak menimbulkan konflik. “Jadi kita harus mencari strategi-strategi yang harus kita pelajari, saya ambil contoh di Spanyol ada satu pulau itu dijadikan kawasan observatorium. Satu pulau itu mendukung observatorium dengan membuat kesepakatan dalam starlight declaration,” kata Sungging.

Primus Lake, Dosen  FISIP Undana, mengusulkan perlu diadakannya forum diskusi dengan para tokoh masyarakat dan pemangku adat di sekitar Obnas. “Dari diskusi itu sehingga mereka dapat memahami aspek positif keuntungan apa yang bisa mereka peroleh dari kehadiran observatorium itu, kalau mereka berfikir observatorium memberikan dampak positif bagi masyarakat otomatis mereka akan mendukung, dukungan itu yang kita perlukan dari mereka,” tutur Primus.

Lokasi Obnas berada di kawasan hutan lindung lereng Gunung Timau di ketinggian sekitar 1.300 meter di atas permukaan laut. Kawasan Obnas berdekatan dengan Desa Bitobe  yang masuk dalam Kecamatan Amfoang Tengah. Selain itu juga ada Desa Honuk dan Desa Faumes yang berada di wilayah Kecamatan Amfoang Barat Laut dialokasikan untuk pembangunan Observatorium Nasional Timau.

Primus menerangkan di masyarakat lokal juga ada pemerintah lokal yang disebut Kerajaan Amfoang. Masing-masing kecamatan punya fungsionaris adat yang bertanggung jawab pada aspek-aspek tertentu misalnya aspek lingkungan hidup, aspek keamanan wilayah, aspek pembagian tanah adat. “Masyarakat di sana cukup terbuka karena pengalaman dari sejarah dulu jauh dari Indonesia hadir mereka sudah bertemu dengan orang dari Inggris, kemudian setelah merdeka jadi kelompok adat yang sangat terbuka,”ungkap Primus.

Usulan Primus untuk menggelar forum diskusi dengan tokoh masyarakat di sana disambut baik oleh Plt. Kepala Balai Pengelola Observatorium Nasional Timau Abdul Rachman. ”Saya senang sekali dengan gagasan itu, ini harus kita sambut secara positif, saya pribadi sangat setuju untuk kita mengadakan forum diskusi karena ini modal yang penting untuk melanjutkan pada riset-riset lainnya,” ucap Rachman.

Selain di Timau, pusat pengamatan antariksa juga dibangun di daerah lainnya di Nusa Tenggara Timur yaitu di Tilong.  Di lokasi yang berjarak sekitar satu jam dengan menggunakan mobil dari Kota Kupang ini terdapat Laboratorium, gedung teleskop optik 50 centimeter dan gedung pusat dan operasional Obnas yang sudah terbangun 100 persen. (Bambang R)

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *