Warga Lokal: Sebelum Ada Observatorium Kami Pergi Beli Gula Naik Kuda

5
(2)

 24,088 total views,  59 views today

Dibutuhkan waktu sekitar tiga jam dengan menaiki mobil dari Kupang untuk sampai ke lokasi Observatorium nasional Timau Nusa Tenggara Timur. Keberadaan Observatorium memberi perubahan di daerah yang setiap malamnya dipenuhi bintang-bintang ini.

Satu jam sebelum sampai ke tujuan, perjalanan akan semakin menantang karena jalannya yang berkelok-kelok dan menanjak. Namun sepanjang jalan kita dapat melihat kawanan sapi dan kuda yang mencari makan di padang rumput yang luas.

Adi Yacub Ledo petugas kebersihan di Observatorium Timau bercerita jalan menuju observatorium sekarang sudah mulus karena sudah dilapisi aspal.”Berbeda dengan 2011, saat saya menemani tim survei dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Nusa Cendana (Undana) jalannya masih tanah,” kenang Adi.

Keberadaan tempat untuk meneropong benda-benda di luar angkasa ini memberi dampak bagi masyarakat sekitar. Terutama pengaspalan jalan yang juga ikut dirasakan oleh warga lokal yang tinggal di sekitar observatorium.

Kepala Dusun Bitobe Enos Melkianus Tabais mengatakan sebelum jalan ada jalan beraspal dia dan penduduk lain harus naik kuda jika ingin membeli sesuatu. “Kami harus naik kuda kalau ingin beli minyak atau gula,” tutur Enos.

Kawanan Kuda yang mencari makan di sekitar Observatorium Nasional Timau

Setelah jalanan mulus warga desa yang mayoritas  menjadi petani dapat dengan mudah menjual hasil panennya seperti padi, jagung, pisang dan ubi.”Pembeli dengan menaiki mobil bisa langsung datang ke lokasi, dulu hasil kebun banyak kita habiskan sendiri,” ucap Enos.

Jelang beroperasinya Observatorium yang ditargetkan tahun 2022, dia bersama warga lainnya mendukung. “ Kita sangat menerima dengan lapang dada jika Observatorium mulai berjalan, dan banyak tamu-tamu dari luar timau yang akan datang,” urai Enos.

Lokasi Timau dipilih untuk mendirikan Observatorium dengan teleskop berdiameter 3,8 meter ini karena memiliki langit yang gelap dibandingkan daerah lain di Indonesia.Lokasi Observatorium Nasional berada di kawasan hutan lindung lereng Gunung Timau di ketinggian sekitar 1300 meter di atas permukaan laut.

Area seluas kira-kira 30 hektar di Desa Bitobe (Kec. Amfoang Tengah), Desa Honuk, dan Desa Faumes (Kec. Amfoang Barat Laut) dialokasikan untuk pembangunan Observatorium Nasional Timau. Lokasi tersebut dekat dengan Jalur Poros Tengah Nusa Tenggara Timur, sekitar 120 km dari Kota Kupang. Lokasi yang jauh dari kota memungkinkan astronom melakukan pengamatan bintang atau objek langit lainnya tanpa gangguan polusi cahaya.

Plt. Kepala Pusat Sains Antariksa  Emanuel Sungging Mumpuni  mengajak masyarakat di sekitar observatorium untuk menjaga agar langit di sekitar observatorium tetap gelap. “Tentu saja  kita tidak melarang pertumbuhan ekonomi tetapi tentu saja ada hal yang perlu kita lakukan untuk mengedukasi masyarakat  tentang pentingnya peranan menjaga langit itu tetap gelap, kita juga sudah melakukan sosialisasi seperti tundung lampu serta pentingnya keantariksaan bagi masyarakat,” jelas Sungging yang juga Penerima Beasiswa Non Gelar RISET-Pro.

Adi mengungkapkan jika langit di Timau cerah tidak mendung atau terang bulan, pemandangan gugusan Bima Sakti atau Milky Way dapat dilihat dengan jelas dari Timau. “Timau sekarang semakin didatangi banyak pihak, banyak yang berkunjung dan datang dari jauh hanya untuk melihat bintang saja,” ucap Adi.

Foto Galaksi Bimasakti yang diambil di dekat lokasi Observatorium Nasional Timau Sumber M Zamzam

Plt. Kepala Balai Pengelola Observatorium Nasional Timau Abdul Rachman mengatakan selain berdampak pada warga sekitar,  Observatorium akan memajukan ilmu  antariksa di Indonesia dengan kolaborasi peneliti dalam negeri dan luar negeri. ”Kita berharap,dari situ akan terbuka peluang untuk kolaborasi, kita melakukan riset bersama dengan negara-negara yang lebih maju di bidang astronomi dan astrofisika,” urai Abdul  yang juga Penerima Beasiswa Gelar RISET-Pro.

Selanjutnya Untuk menjamin keberlanjutan pengamatan astronomi di Observatorium Nasional, diusulkan agar dalam radius tertentu dari Observatorium Nasional dibuat Taman Langit Gelap (Dark Sky Park) di mana kualitas langit malam di tempat itu dijaga sebaik mungkin dengan mengatur agar setiap bangunan tidak menghasilkan polusi cahaya. Kualitas langit malam dijaga sesuai standar IDA (International Dark Sky Association).

Selain itu, Taman Langit Gelap dapat diangkat sebagai tujuan wisata edukasi-ekologis dengan konsep Astro Tourism. Bangunan di daerah tersebut dibuat dengan mengikuti standar IDA. Bangunan khas Nusa Tenggara Timur yang bernama Ume Kbubu yang juga dinilai ideal sebagai tempat hunian di dalam kawasan Taman Langit Gelap karena cahaya digunakan secara efisien untuk penerangan indoor.

Rumah Khas Nusa Tenggara Timur

Rumah Lopo yang berbentuk piramida ditopang oleh kayu juga dapat dijadikan contoh bangunan rendah polusi cahaya. Bangunan ini memiliki tiga tingkat, di mana tingkat dasar berfungsi sebagai ruang istirahat dan dapur. Tingkat dua berfungsi sebagai tempat penyimpanan bahan makanan. Tingkat paling atas berfungsi sebagai gudang atau lumbung kecil. (Bambang R)

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.