32,980 total views,  1,226 views today

Research and Innovation in Science and Technology Project (RISET-Pro) bertujuan untuk meningkatkan daya saing Indonesia dalam pembangunan ekonomi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Kegiatan RISET-Pro lebih spesifik diarahkan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi penelitian dan pengembangan dibidang iptek, memperkuat kinerja insentif, dan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di kelembagaan iptek (BRIN). Proyek RISET-Pro merupakan inisiatif pemerintah Republik Indonesia dengan dukungan dari Bank Dunia melalui Loan No. 8245-ID.

RISET-Pro berkontribusi pada penguatan sistem iptek secara keseluruhan dan penguatan landasan yang kuat bagi koordinasi antar pemangku kepentingan, pemanfaatan iptek yang lebih baik, dan pengawasan kebijakan iptek. Lebih jauh, RISET-Pro berkontribusi pada penguatan manajerial dari program insentif penelitian dan pengembangan.

Penerima manfaat utama dari program ini, dimulai sejak tahun 2013, adalah Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) serta tujuh Lembaga Pemerintah Non-Kementerian (LPNK) yang berada di bawah koordinasi Kemenristek, yaitu: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Badan Informasi Geospasial (BIG), Badan Standardisasi Nasional (BSN), Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN). Kini proyek ini dikelola oleh Project Management Office (PMO) yang berad dibawah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Proyek ini juga melibatkan kelembagaan iptek terkait seperti perguruan tinggi, lembaga litbang pemerintah pusat dan daerah, lembaga litbang swasta, lembaga intermediasi, dan juga sektor industri dalam rangka memfasilitasi proses transfer teknologi.

Mengacu pada UU No. 11/2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, kegiatan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan memiliki kontribusi bagi terciptanya inovasi terutama dalam rangka peningkatan produktivitas pembangunan, kemandirian, dan daya saing bangsa. Untuk mencapai hal tersebut maka dibutuhkan adanya ekosistem yang mampu menstimulasi terjadinya kolaborasi strategis antara berbagai berbagai pihak yang berperan dalam menciptakan inovasi. Program RISET-Pro hadir sebagai salah satu instrumen untuk mendorong sinergi tersebut, terutama menciptakan iklim dan ekosistem kondusif bagi perkembangan riset dan inovasi di Indonesia.

Untuk mewujudkan maksud tersebut, RISET-Pro memiliki berbagai program yang dikelompokkan ke dalam empat komponen yang saling berkaitan erat satu dengan yang lainnya. Komponen 1 berfokus pada peningkatan kerangka kerja kebijakan inovasi dan kinerja kelembagaan iptek, seperti Kawasan Sains dan Teknologi (KST) dan Kantor Alih Teknologi (KAT) yang erat kaitannya dengan Komponen 2 yang fokus pada penguatan sistem pendanaan riset dengan adanya beberapa isu seperti Lembaga Pemberi Dana Riset dengan adanya Indonesia Research Funders Forum (IRFF), serta Sistem Monitoring, Evaluasi Riset dan Pengembangan. Selanjutnya, dalam rangka pengembangan kapasitas SDM Iptek, Komponen 3 memfasilitasi adanya beasiswa karya siswa Program Gelar dan peningkatan kapasitas peneliti melalui pelatihan dan magang dalam bentuk Program Non-Gelar. Sebagai pelengkap, Komponen 4 mendukung pembiayaan teknis terkait kebutuhan dukungan konsultan dan kegiatan.

Komponen 1: Penguatan Sistem Inovasi dan Fungsi Teknologi Transfer

Komponen ini diarahkan untuk pengembangan inovasi dalam pengembangan Science Technology Park (STP), khususnya untuk bidang pertanian dan pangan serta pengembangan Technology Transfer Office (TTO) di LPNK.

Komponen 1 terdiri dari dua sub komponen, yaitu: sub komponen 1.a Penguatan Prioritas Terpilih dan Strategi Inovasi Nasional; dan sub komponen 1.b Penguatan TTO dan Pusat penelitian di Badan Penelitian Terpilih di LPNK.

Komponen 2: Penguatan Insentif Riset

Tantangan utama bagi kegiatan litbang di Indonesia tidak hanya anggaran yang terbatas tapi juga sejauh mana efektifitas kegiatan litbang itu sendiri untuk menghasilkan produk yang inovatif dan bermanfaat bagi negara. Komponen 2 bertujuan meningkatkan sistem yang mengawasi dan mengelola sebagian besar dana riset di Indonesia. Komponen ini terdiri dari tiga sub komponen yaitu, 2.a Pengembangan Kolaborasi dan Jejaring Iptek dan Inovasi; 2.b Mewujudkan Sistem Informasi Riset yang Relevan; dan sub komponen 2.c Penguatan Sistem Perencaan Anggaran Riset.

Komponen 3: Pengembangan Kapasitas Sumber Daya Manusia Iptek

Komponen ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Strategi yang ditempuh adalah melalui program Karya Siswa untuk mengikuti Program Gelar (degree) dan Non-Gelar (Non Degree). Program Gelar berupa pemberian beasiswa untuk menempuh pendidikan S2 dan S3 di luar negeri. Program Non-Gelar dilaksanakan di perguruan tinggi, institusi riset dan/atau lembaga diklat dan pelatihan profesional di dalam dan luar negeri yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi peserta pada bidang tertentu yang lebih spesifik guna mendukung program penguatan sistem inovasi nasional dan pelaksanaan tugas pokok serta fungsinya di institusi terkait. Program Non-Gelar diselenggarakan dalam beberapa bentuk, seperti:

  • Tailor Made Courses yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan tertentu dalam institusi. Kursus tersebut dapat dilaksanakan baik di dalam negeri atau luar negeri.
  • Off-the-shelf Courses merupakan kursus generik yang ditawarkan oleh penyedia pelatihan. Kursus tersebut dapat dilaksanakan baik di dalam negeri atau luar negeri.
  • Individualized Immersion atau mentor training merupakan pelatihan dimana seseorang ditempatkan dalam suatu organisasi untuk belajar pengalaman praktis dengan bekerja bersama seorang mentor. Kursus tersebut dapat dilaksanakan baik di dalam negeri atau luar negeri.
  • Visiting Scholar/Researcher yang akan datang ke Indonesia dan mengadakan kelas master untuk trainee yang dipilih. Kursus tersebut hanya akan dilaksanakan di dalam negeri.

Komponen 4: Manajemen Proyek

Mendukung kegiatan yang akan dilaksanakan oleh Project Management Office (PMO). Komponen 4 terdiri dari lima kategori kegiatan, yaitu koordinasi proyek dan monitoring dan evaluasi. Untuk memperkuat koordinasi, akan dilaksanakan workshop secara regular (3 bulanan) sebagai forum untuk membahas progres pelaksanaan, kendala/tantangan yang dihadapi dan solusi yang disepakati bersama. PMO juga melakukan monitoring dan evaluasi berdasarkan kerangka hasil atau results framework yang ada.

Di akhir proyek, di tahun 2020 dan sepanjang implementasinya, keberhasilan proyek RISET-Pro ini dilihat dari beberapa indikator utama seperti i) Ter-institusionalisasinya reformasi Litbang di LPNK; ii) Meningkatnya jumlah regulasi pembiayaan penelitian bidang STI berbasis SBK; iii) Meningkatnya jumlah staf LPNK dan Kemenristekdikti yang bergelar S2 dan S3 yang dibiayai melalui RISET-Pro; iv) Jumlah S2 yang terlibat dalam penelitian STI yang aplikatif; dan v) Jumlah S3 yang terlibat dalam merancang dan mengelola penelitian STI yang aplikatif.